hmm…

December 9th, 2008 by dwieguntoro

mencintai seseorang itu hal biasa.
apa lagi mencintai seseorang yang tidak pernah mencintai kita, walaupun dengan banyak harapan, bagiku, itu hal teramat biasa.
yang tidak biasa ialah rasa sakit yang kita rasakan…
rasa lelah yang mendera…
rasa rindu yang meracun…
rasa sepi yang mencekik jiwa…
Hey…
semua itu tidak biasa.
sekalipun seluruh dunia mengatakan itu hal biasa tapi sungguh…
jika kau rasakan sendiri, ini tidak biasa…
bisakah kamu mengatakan biasa saja ketika kau merasakannya? sakitnya?
aku tak pernah mengatakan semua yang telah kulakukan untukmu.
kata orang, itu yang aku korbankan untukmu. sebenarnya, aku berkorban bukan untukmu tapi untukku.
bukan…bukan untukmu…tapi untukku.
aku berkorban segalanya demi bertemu denganmu, itu semua untukku, menjemput kebahagiaanku.aku berkorban memberikan segalanya demi membuatmu senang, itu semua untukku. aku korbankan semua waktuku untukmu. tapi sebenarnya itu untukku…demi membuatku bahagia juga…

Tuhan…aku tau Engkau memberikan perkara ini karena Engkau tau, aku mampu menangani nya. Engkaupun tau, aku bisa menerimanya…
dia, karena aku, dia melepasku dulu. dan dia yang lain tidak mencintaiku seperti yang kuinginkan, semua adalah bagian dari hidupku.
hanya saja…luka demi luka itu tidak biasa…
sekalipun aku pernah terluka, tetap saja sakit yang tak biasa….

Adakah orang yang akan mendoakan kita…

December 2nd, 2008 by dwieguntoro
Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat diRS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.
Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang
Berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam, jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!
"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mahgampang .. . " kata si
Pengusaha ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum
Batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah
Banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi
kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang
sulit".
Dengan lembut si Malaikat berkata, "Anakku, aku sudah berkeliling
Mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".
Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layer besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak
kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka".
Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"
Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, "
Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."
Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin
deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang
istirahat". Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha
ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia bukanlah suami yang
baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.
Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan
Yang luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang !
Dengan setengah bergumam dia bertanya,"Apakah diantara karyawanku,
kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa
buatku?" Jawab si Malaikat, " Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik. Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah". Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.
Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di
Kursi sambil memangku si bungsu. Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata,"Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! Kau tidak jadi
meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".
Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah
Yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. "Benar anakku,
Kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau ku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. "
"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di Koran kalauseorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah
melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu. "
Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.
Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.
Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru
Dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.
Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.
Karena pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan fisiknya,tapi dari
kekuatan hatinya. Katakan ini dengan pelan, "Ya TUHAN saya
mencintai-MU dan membutuhkan-MU, datang dan terangilah hati kami sekarang... Amien.
Terimakasih

The Glory

February 21st, 2008 by dwieguntoro

Glory to God in the highest
and peace to his people on earth

Lord God, heavenly King..
Almigthy God and Father
We worship you, We give You thanks
We praise you for Your Glory

Lord Yesus Christn, only son of the Father
Lord God, Lamb of God
You take away the sin of the World

Have mercy on us
You are seated at the right hand of the Father
receive our prayer
for You alone are the Holy one
You alone are the Lord
You alone are most high

Jesus Christ
with the Holy spirit
in the Glory of God the Father

Amien.

Feb - 09 - 2008

www.todayonline.com

January 23rd, 2008 by dwieguntoro

Hundreds
of journalists camp outside the hospital to wait for developments

HUNDREDS of local and foreign journalists have been keeping
vigil at Jakarta ’s
Pertamina hospital, where former President Suharto has been fighting for his
life since early this month.

"This
has been my second home for almost two weeks now," said SCTV cameraman
Dwie Guntoro, pointing to a makeshift structure on the front lawn of the
hospital.

SCTV is among scores of broadcasting stations which have
set up trailers near the entrance of the now well-known hospital. Outside their
trailers, journalists sat talking and smoking, all the time keeping an eye on
what was happening around them.

"When it’s hot, we take cover under the trees. When it
rains, we crowd into the sheltered compound outside the entrance," said
photographer Bey Andry of the Suara Karya publication. Mr Jefri Aries of Antara
News Agency said: "There are many reporters from different countries and
various media waiting anxiously for things to develop."

Suddenly, he grabbed his camera from a chair and rushed to
the hospital entrance when a black vehicle with tinted windows rolled into
sight. It was the Yogyakarta Sultan paying Mr Suharto and his family a visit.

Reporters have been barred from lingering inside the
hospital. But that did not stop Mr Andry from sneaking into the corridor near
Mr Suharto’s room recently. He was caught with a hidden compact camera.

"I have taken plenty of photos of VIPs including
former Malaysian Prime Minister Dr Mahathir Mohamad and
Brunei ’s Sultan
Hassanal Bolkiah. But what I want are more pictures of Mr Suharto’s family
members," said Mr Andry.

The journalists at the hospital have been cooperating
rather well — discussing their story angles and comparing photographs,
while having most of their meals and taking naps on the lawn. "We’re
willing to bear it out here because Pak Harto still wields political influence
even though he’s no longer in power. There are many people who respect him and
approach his family for advice," said Mr Andry, as he suddenly swung
around to take photographs of Pakistani and Israeli dignitaries who had just
arrived.

Mr Andry said he once joined a students’ movement against
Mr Suharto, "but after I started working and made an effort to understand
issues of his era, my views changed".

Opinion on Mr Suharto’s legacy remains divided in
Indonesia ,
where he is widely seen as bringing stability and boosting economic growth.
Yesterday, 15 members of a youth group from the satellite city of
Bekasi gathered outside
the hospital to pray for his recovery and urge the public not to forget contributions
he has made.

But in the East Javanese town of
Jember , dozens of protesting students torched
pictures of the former strongman and urged the government to pursue both
criminal and civil suits against him despite his illness.

Mr Suharto was fully conscious and indicated that he felt
well yesterday, but doctors treating him said he remained weak and his
condition was unstable.


JESSINTA TAN in Jakarta
jessinta@mediacorp.com.sg
- With additional reporting from AFP
­

Pengungsi kembali ke Baghdad

April 12th, 2007 by dwieguntoro

Kehidupan Kota Baghdad mulai berdenyut pada pekan pertama,
pendudukan pasukan Amerika Serikat. Sejumlah warga Ibu Kota Irak yang
sempat mengungsi pun mulai berduyun-duyun pulang ke wilayah
masing-masing. Jalan-jalan dari arah Kota Tikrit, tampak dipenuhi
mobil-mobil yang mengangkut keluarga Irak.

Di beberapa bagian Kota Baghdad, keadaan yang berangsur-angsur
normal mulai tampak. Para penjarah yang tertangkap dan sempat diadili
massa, pun mendapat pertolongan. Selain itu, demonstrasi kembali
berlangsung di depan Hotel Palestine. Para pengunjuk rasa menuntut
keadilan bagi warga Irak.

Situasi Baghdad yang mulai terkendali ini berlangsung sejak
kemarin, setelah dilakukan patroli bersama pasukan Marinir AS dan
polisi Irak. Mereka tampak berpatroli di jalan-jalan utama Kota
Baghdad. Seperti diketahui, pasukan AS mulai tergerak menertibkan
keamanan setelah mendapat kritikan dan protes dari masyarakat serta
sejumlah negara.

Dalam patroli bersama itu, mereka berhasil menangkap sekelompok
masyarakat yang sedang membobol Bank Baghdad. Sebelum menggagalkan
perampokan senilai US$ 4 juta, pasukan koalisi sempat baku tembak
dengan kelompok penjarah.

Rutinitas yang mulai normal juga tampak di wilayah selatan Irak.
Para nelayan di Sungai Shatt Al-Arab, terusan Sungai Tigris dan Eufrat,
mulai beraktivitas kembali. Mereka mulai mencari ikan di tepi sungai
yang masuk areal satu di antara Istana Kepresidenan Saddam. Kini, para
nelayan dapat memancing atau menjala ikan tanpa takut ancaman tembakan
dari para pengawal Saddam.

Sementara di Kota Tikrit, sejumlah korban masih dirawat di Rumah
Sakit Saddam, satu-satunya rumah sakit di kota kelahiran Saddam
tersebut. Kondisi korban tampak mengenaskan karena minimnya peralatan
medis. Ini diperparah terputusnya suplai obat-obatan dari Baghdad,
menyusul penutupan sebuah jembatan ke Kota Baghdad oleh pasukan
koalisi.

Di perbatasan Baghdad-Nasiriyah, pasukan koalisi menahan sekitar
100 warga Irak. Sebab, mereka memiliki sejumlah senjata api berikut
surat-suratnya. Pasukan koalisi juga menemukan senapan-senapan yang
dilapisi emas. Senjata tersebut diduga milik Uday mengingat para
penjarah itu mengaku mengambilnya dari kediaman putera Saddam Hussein
tersebut.

Hari ini, Unit Operasi Khusus Marinir AS menggeledah secara paksa
Kantor Walikota Baghdad. Mereka mencari pasukan bunuh diri Saddam,
Fedayeen, yang diduga bersembunyi di sana. Namun, tentara AS yang
bersenjata lengkap berikut rompi antipeluru tak menemukan seorang pun
dalam kantor tersebut. Di dalam sebuah ruangan pribadi Walikota
Baghdad, Marinir AS menemukan sejumlah peta dan lemari penyimpanan.
Semua temuan tersebut pun disita.

Memang, setelah mengklaim menguasai Kota Baghdad, pasukan koalisi
pimpinan AS terus mencari dan menggeledah semua lokasi yang diduga
tempat persembunyian milisi Fedayeen atau pendukung setia Partai Ba`ath
dan Presiden Saddam. Sejauh ini, keberadaan Saddam belum diketahui.
Bahkan, pihak AS tak berani berspekulasi mengenai kemungkinan Saddam
sudah tewas atau masih hidup.

Hari ini, pasukan AS memperketat keamanan di Baghdad. Tentara
pendudukan itu sibuk menggeledah sejumlah rumah tua dan gedung-gedung
yang dicurigai sebagai persembunyian milisi pendukung Saddam. Termasuk
mencari gudang-gudang senjata dan amunisi milik serdadu Irak yang masih
setia kepada Saddam. Pasukan koalisi juga menggeledah Hotel Meridian
dan Palestine–tempat menginap sejumlah wartawan asing.

Pengetatan keamanan itu dilakukan lantaran utusan Presiden AS untuk
wilayah Irak Zalmay Khalilzad dikabarkan akan datang ke Baghdad. Namun,
hingga saat ini, Zalmay yang mensponsori Deklarasi Nasiriyah itu belum
tiba. Rencananya, besok pagi, Zalmay bakal menggelar konferensi pers
mengenai pemerintah transisi Irak. Seperti diketahui, Deklarasi
Nasiriyah menghasilkan 13 butir kesepakatan di antara kelompok oposisi
Irak. Misalnya, usulan menggunakan sistem demokrasi federal,
menghormati pluralisme, dan membubarkan Partai Ba`ath pimpinan Saddam.

Baghdad, 18 April 2003

Irak Negeri tak Bertuan

April 12th, 2007 by dwieguntoro

Penjarahan yang terjadi di mana-mana serta rusaknya berbagai instalasi
vital kota seperti penyedia listrik dan air bersih juga dirasakan
ribuan wartawan yang meliput perang di Baghdad. Sekitar 2.000 wartawan
dari berbagai negara ikut merasakan sulitnya kondisi di kota tersebut.
Meski menginap di hotel-hotel berbintang, mereka tetap kesulitan air
dan listrik.

Kami berdua dan para wartawan termasuk jurnalis dari Indonesia yang
menginap di Hotel Sheraton dan Palestine harus tidur dengan kondisi
gelap gulita. Generator kedua hotel sudah tak berfungsi lagi, sehingga
tak ada pasokan listrik dan air di seluruh ruang hotel. Sebagian
wartawan ada yang memilih menginap di Kantor Kedutaan Besar Indonesia
di Baghdad, karena di sana terdapat air bersih dan aliran listrik
menjelang malam hari.

Berbagai tantangan dihadapi Amerika Serikat pasca-Saddam Hussein. Satu
di antaranya adalah mencari jalan untuk menentukan peran warga Syiah.
Perseteruan antara warga Sunni dan Syiah di Irak diharapkan tidak
membuat masalah baru bagi negara yang kini tengah mengalami perubahan
kepemimpinan drastis tersebut.

Warga Syiah khususnya yang tinggal di kota suci mereka di Karbala, tadi
siang berkumpul di Masjid Abbas sambil mengobarkan bendera lambang
alirannya. Tak hanya itu mereka juga melakukan berbagai ritual seperti
menepuk-nepuk dada yang selama rezim Saddam berkuasa jarang sekali
dilakukan. Para pengunjung masjid menyerukan teriakan-teriakan untuk
mengobarkan semangat juang rakyat Irak di tengah-tengah perubahan di
Negeri 1001 Malam.

Jatuhnya Saddam Hussein yang berasal dari kaum Sunni memberikan peluang
bagi warga Syiah untuk lebih berperan dalam pembangunan Irak yang baru.
Namun beberapa fakta seperti terbunuhnya tokoh Syiah, Abdul Majid
Al-Khoei dan pengepungan kediaman pemimpin besar Syiah Ayattollah Ali
Sistani di Najaf, diperkirakan akan mempersulit Amerika dalam proses
rekonsiliasi pascaperang. Sengketa yang telah ratusan tahun berlangsung
di antara beragam klan, khususnya dalam hal pengawasan beberapa situs
suci Syiah juga akan menjadi beban tersendiri yang harus dihadapi
Amerika. Aliran Syiah bermula pada 680 Masehi di bawah pimpinan Imam
Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, meski perang Irak telah usai, unjuk rasa menentang
perang tetap berlangsung. Di Athena, Yunani, yang saat ini menjadi tuan
rumah pertemuan puncak Uni Eropa dilanda aksi unjuk rasa besar
menentang kebijakan beberapa anggota Uni Eropa yang mendukung agresi
sepihak Amerika ke Irak. Ribuan warga Athena turun ke jalan sambil
membawa beragam poster bernada antiperang, di antaranya berisi kecaman
yang menyatakan Amerika dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO)
adalah pembunuh. Unjuk rasa berakhir rusuh. Polisi antihuru-hara
melepaskan tembakan gas air mata ke arah demonstran dan pengunjuk rasa
membalas dengan lemparan bom molotov.

Pertemuan pemimpin Eropa di Athena kali ini adalah yang pertama setelah
pecah perang Irak. Mulai hari ini, sepuluh negara anggota Uni Eropa,
termasuk Inggris, Prancis, dan Yunani yang kini menjabat sebagai
Presiden Uni Eropa akan menggelar konferensi tingkat tinggi selama dua
hari. Krisis Irak yang tengah menjadi masalah hangat internasional
tidak termasuk dalam agenda pertemuan. Kesepuluh negara akan membahas
masa depan Uni Eropa dan kemungkinan pemekarannya. Menurut rencana,
pada 2004 mendatang Uni Eropa akan menerima sepuluh anggota baru.
Kesepuluh negara yang telah disetujui untuk menjadi anggota adalah
Polandia, Hungaria, Slovenia, Slovakia, Lithuania, Republik Ceko,
Estonia, Latvia, Cyprus, dan Malta.

Baghdad, 17 April 2003

Anak-anak korban perang memenuhi RS Baghdad

April 12th, 2007 by dwieguntoro

Perang memang hanya akan meninggalkan kesengsaraan dan penderitaan bagi
warga sipil. Begitulah yang kini tertinggal di sejumlah kota di Irak
pasca-invasi pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat. Jerit tangis
anak-anak Irak yang menjadi korban serangan koalisi dan tetes air mata
para orangtua yang harus melihat penderitaan putra-putri mereka,
menjadi pemandangan biasa di berbagai rumah sakit di Kota Baghdad. Lorong Rumah Sakit Anak-anak Saddam di pusat Kota Baghdad telah
penuh pasien. Kebanyakan dari mereka adalah korban serangan udara yang
menghujani Baghdad dengan bom.

Kehidupan Kota Baghdad memang mulai berdenyut pada pekan pertama
pendudukan pasukan Amerika. Karena itulah warga Irak merasa lebih aman
meninggalkan rumah untuk mengobati anggota keluarga mereka yang cedera.
Akibatnya jumlah korban anak-anak yang diangkut ke rumah sakit
meningkat drastis sejak perang pecah.
Meski tak tampak kepanikan, para dokter dan paramedis di rumah sakit
tersebut terlihat sangat sibuk mengobati pasien mereka. Satu yang
pasti, para pasien kecil tersebut terpaksa hanya mendapatkan
pertolongan medis seadanya, mengingat kekurangan tidak hanya pada
persediaan medis saja namun juga pada tenaga dokter, perawat, dan
tenaga medis lainnya. Sementara pertolongan pasukan AS hingga kini
masih sebatas menjaga rumah sakit dari para penjarah.

Jatuhnya Irak ke tangan pasukan koalisi ternyata tak mempermudah para
petugas Palang Merah Internasional dalam menjalankan tugasnya. Staf
Hubungan Masyarakat Palang Merah Internasional Roland Huguenin Benin
menyatakan, buruknya kondisi pelayanan kesehatan saat ini akan lebih
buruk bila suplai listrik dan air bersih tidak dapat disediakan dalam
waktu dekat. Namun sebetulnya, hal utama yang dikhawatirkan pihak
Palang Merah Internasional adalah kondisi di Irak saat ini dimana
jutaan orang hidup tanpa pekerjaan dan pendapatan.

Baghdad, 17 April 2003

Wartawan Indonesia di Kancah Perang

April 12th, 2007 by dwieguntoro

Bagi wartawan, meliput perang adalah pengalaman yang tiada tara. Sebab,
tidak semua jurnalis bisa mendapat kesempatan ini. Selain selalu
terancam peluru, kami juga mengalami kesulitan perbekalan. Inilah
yang dialami kami berdua selama meliput perang Irak. Nasib serupa
juga dialami delapan rekan kami, wartawan Indonesia yang menginap di Hotel
Palestine, Baghdad.

Menurut saya dan rekan wartawan Indonesia lainnya, makan hanyalah sekedar
mengembalikan tenaga. Sebab, tak ada variasi makanan yang tersedia.
Hampir semua restoran tak beroperasi. Apalagi, setelah Baghdad
ditaklukkan pasukan koalisi. Yang ada hanya mi siap saji. Itu pun
sangat sedikit jumlahnya. Jika tak ingin kehabisan persediaan, kami para
wartawan, harus bisa menghemat makan. Singkatnya, kami harus dapat
menahan lapar selama perang berkecamuk.

Istirahat juga menjadi persoalan tersendiri. Tidur adalah kesempatan
istimewa buat kami. Itulah sebabnya, kami para wartawan Indonesia,
berusaha memejamkan mata, meski hanya sebentar. Namun, jangan bayangkan kami bisa tidur pulas dan leluasa seperti halnya di rumah sendiri. Kami harus tidur berhimpitan dengan sesama jurnalis lain.

Mengingat situasi Baghdad belum 100 persen aman, kami wartawan Indonesia di
sana (Irak)juga menyiapkan senapan AK-47 di kamar Hotel Palestine. Kami harus
berjaga-jaga secara bergiliran untuk menghindari segala kemungkinan yang terjadi. Maklumlah, kondisi
Irak masih sangat tak menentu. Ini terbukti dengan penjagaan yang
ketat, sehingga Kami wartawan masih harus diperiksa bila ingin
keluar-masuk hotel. Perlakuan yang mereka terima dari tentara koalisi
persis dengan warga Irak. Tak ada bedanya.

Salah seorang dari kami, Wartawan Republika Damanhuri Zuhri juga menulis
petualangan jurnalis Indonesia di Baghdad. Menurut dia, situasi di sana
benar-benar tak menentu. Kontak senjata bisa terjadi kapan saja,
seperti tak mengenal waktu. Begitu juga dengan penjarahan. Semua obyek
kekerasan ini terus-menerus terjadi. Tanpa bisa dicegah, tanpa bisa
dibendung. Kondisi ini membuat wartawan Indonesia harus pontang-panting
merekam semua kejadian.

Baghdad, 17 April 2003

Bisnis Telepon satelit Naik

April 12th, 2007 by dwieguntoro

Selama perang, instalasi sarana komunikasi menjadi satu di antara
sasaran utama serangan pasukan Amerika Serikat untuk melumpuhkan Kota
Baghdad. Akibatnya, hubungan Baghdad dengan wilayah lain terputus.
Padahal, banyak di antara mereka yang harus berkirim kabar dengan sanak
saudara yang mengungsi ke luar Irak. Kondisi ini dimanfaatkan sejumlah
penduduk yang memiliki telepon genggam satelit berjangkauan
internasional untuk berbisnis. Telepon genggam mereka disewakan dengan
tarif cukup mahal, US$ 10 per menit. Kami berduapun juga menyewakan Telepon Satelit yang kami bawa, hitung-hitung menambah pemasukan keuangan kami.

Meski mahal, peminat jasa telekomunikasi ini sangat banyak. Bahkan,
mereka rela antre menunggu giliran, seperti yang terlihat di depan
Hotel Palestine Baghdad. Di antara mereka adalah seorang ibu bernama
Khosim Ummar. Dia hendak mengabarkan kepada keluarganya yang mengungsi
di Tunisia bahwa mereka bisa kembali ke Baghdad karena situasi sudah
aman. Kendati bisnis ini cukup menggiurkan jika dilakoni dengan serius,
para pemilik telepon tak jarang memberikan jasanya secara cuma-cuma.
Namun, tentu saja layanan gratis ini cuma berlaku bagi warga yang tak
mampu.

Patung Saddam Tumbang, Sniper Gentayangan

April 12th, 2007 by dwieguntoro

Memasuki pekan ketiga, pasukan darat Amerika Serikat
berhasil menembus jantung Kota Baghdad. Seiring gerak maju pasukan
koalisi itu, aksi penjarahan terjadi di berbagai kantor pemerintahan
seperti Kementerian Perdagangan dan instalasi militer Negeri 1001 Malam
yang kosong ditinggalkan para karyawan dan pejabatnya. Keadaan Baghdad
juga porak-poranda akibat gempuran ribuan rudal maupun bom yang
dijatuhkan tentara sekutu sejak agresi militer dilancarkan pada 20
Maret silam.

Sejak kemarin pagi, pesawat-pesawat tempur AS meraung-raung membelah
langit Baghdad. Ini disusul suara tembakan tank dan baku tembak
sporadis di pusat Kota Baghdad. Memasuki siang hari, baku tembak
berhenti. Namun yang terjadi adalah penjarahan. Warga menjarah berbagai
benda, mulai dari jip sampai komputer. Massa juga berkeliaran di
jalan-jalan, bahkan sebagian dari mereka meneriakkan yel-yel
anti-Presiden Saddam Hussein. Sementara mereka berpesta di jalan,
sangat sedikit tanda-tanda keberadaan serdadu polisi, milisi Irak atau
pun pendukung setia Partai Ba`ath.

Di tengah keadaan chaos lantaran kesimpangsiuran keberadaan Saddam, suara letusan senjata dari sniper
atau penembak gelap kerap terdengar sesekali. Agaknya, sejumlah
penembak jitu Irak masih bertahan di lokasi yang tak diketahui. Massa
yang mendengar letusan tersebut secara otomatis langsung berlindung.
Namun, kepanikan tak berlangsung lama. Berselang kemudian keadaan
kembali normal dan warga kembali menjarah. Sementara sejumlah warga
Irak yang anti-Saddam juga memenuhi jalanan Kota Baghdad. Para
penentang Saddam itu mengekspresikan kegembiraan mereka mengenai
kemungkinan jatuhnya rezim yang berkuasa sejak 1979.

Di Shahid Square atau Taman Firdaus, pusat Kota Baghdad, banyak
warga berkumpul di bawah patung Saddam. Beberapa pria Irak langsung
memanjat patung tersebut dan memasang tali untuk menarik roboh simbol
Saddam tersebut. Sejumlah pasukan Marinir AS tampak membantu warga Irak
itu. Mereka kemudian mengalungkan rantai di leher patung yang ditarik
sebuah tank. Dengan beberapa kali hentakan, akhirnya patung yang
menjadi satu di antara simbol keberadaan Saddam itu roboh.

Robohnya patung segera disambut tepuk tangan ribuan warga yang
memenuhi tempat itu. Sebagian dari mereka lalu menghampiri patung,
memukul, dan menendangnya. Beberapa orang juga menyeret bagian kepala
dari patung itu sepanjang jalan. Aksi tersebut boleh jadi cerminan
sebagian warga Baghdad yang selama ini hidup dalam ketakutan terhadap
Presiden Saddam beserta pengikut setianya. Mereka juga seolah
kehilangan kendali saat keberadaan dan kekuasaan Sang Presiden menjadi
tak jelas. Saddam diduga tewas saat serangan udara AS tiga hari silam.
Ada pula yang menyebutkan ia selamat dan telah melarikan diri ke
Syiria. Kabar lain menyebutkan Saddam berlindung di Kedutaan Besar
Rusia di Baghdad. Makanya, penumbangan patung Saddam mungkin sebagai
lambang perlawanan terhadap rezimnya. Bagi AS, perobohan patung-patung
Saddam ini nampaknya memang menjadi bagian mereka menghancurkan
simbol-simbol pemerintahan Saddam di Irak.

Di bagian selatan Baghdad, pasukan Divisi 101 Airborne AS menggeledah
sebuah kompleks paramiliter Irak. Sebagian kompleks ini memang telah
hancur menyusul serangan udara pasukan koalisi, beberapa waktu silam.
Pada bagian bangunan yang masih berdiri kokoh, tentara AS menemukan
sejumlah besar amunisi, peralatan pelindung antibahan kimia, biologi,
dan nuklir. Mereka juga menemukan sejumlah seragam militer Irak dan
beberapa foto Saddam. Tempat ini diperkirakan pula sebagai kamp
pelatihan militer.

Pasukan Divisi 101 Airborne juga mendapatkan sejumlah hulu ledak
berukuran besar dan kecil. Terlihat pula sebuah papan petunjuk berisi
saran memakai alat pernapasan dan sarung tangan. Pada kompleks ini,
pasukan koalisi menahan tiga warga Irak yang tertangkap basah tengah
membawa sumbu mortir. Luasnya ukuran kompleks itu sempat membuat kagum
pasukan Divisi 101 Airborne yang memeriksanya. Selain terdapat berbagai
bangunan biasa, kompleks ini memiliki fasilitas latihan menembak,
pabrik kimia, dan bunker besar yang diduga sebagai penyimpanan amunisi
Irak.

Berbeda dengan Baghdad, kemarin, beberapa unit Divisi 101 Airborne
AS masih mendapatkan perlawanan sengit dari sejumlah milisi Irak di
Kota Hillah. Di kota yang terletak sekitar 130 kilometer sebelah
selatan Baghdad ini memang masih terdapat sejumlah kelompok milisi yang
rajin mengganggu pasukan AS. Tentara AS melaporkan menemukan sejumlah
amunisi di kota tersebut. Meski telah memasuki kota itu, pasukan
koalisi tetap menyatakan keadaan belum sepenuhnya mereka kendalikan.

Sementara front pertempuran di wilayah utara Irak, relatif tenang.
Hanya sesekali terdengar tembakan dari gerilyawan Suku kurdi ke
beberapa posisi kantong perlawanan Irak. Sedangkan sebuah konvoi
pejuang Peshmerga Kurdi dikabarkan tiba di Kota Chamchamal, sebelah
timur Kirkuk. Para milisi Suku Kurdi ini tampak mempersiapkan
pertahanan di kota itu.

Di Kota Irbil dan Sulaimaniya, sejumlah warga Kurdi memenuhi
jalan-jalan merayakan kabar kemungkinan jatuhnya pemerintahan Saddam.
Mereka sekaligus merayakan kemenangan pasukan operasi khusus AS dan
pejuang Peshmerga yang berhasil menguasai Maqloub, perbukitan strategis
dekat Kota Mosul, utara Irak. Sebelumnya, wilayah perbukitan ini
dijadikan pusat pertahanan udara Irak. Terutama untuk menangkal
serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS. Sedangkan serdadu-serdadu
Irak di wilayah utara ini dilaporkan telah mundur ke Kota Kirkuk. Ini
akibat gempuran udara bertubi-tubi yang dilancarkan pasukan sekutu.

Situasi dalam tiga hari terakhir memang tak menguntungkan pihak
Irak. Bahkan, keberadaan Presiden Saddam masih simpang siur. Menanggapi
hal itu, Duta Besar Irak untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Mohammad
Al-Douri menyatakan tak mengetahui nasib dan status pemerintahan
Saddam. Kini, ia hanya berharap perdamaian segera tercipta di
negaranya. Pernyataan itu disampaikan Al-Douri di New York, AS.

Al-Douri yang kini selalu diburu kalangan pers untuk dimintai informasi
mengenai keadaan pemerintah Irak tampak sedikit terganggu dengan
pertanyaan para wartawan yang menunggunya. Ketika diminta mengomentari
berita bahwa AS telah mengambil alih Kota Baghdad, Al-Douri mengatakan
tak mempunyai pernyataan apa pun. Alasannya, perang telah usai.

Dia menegaskan, dirinya telah kehilangan kontak dengan pemerintah Irak
selama beberapa waktu. Dengan demikian, ia tak mengetahui keadaan
sesungguhnya di Irak, termasuk keberadaan Presiden Saddam. Sementara
itu, berbagai kalangan menduga status Al-Douri sebagai wakil Irak di
PBB tak akan berubah meski pemerintahan Saddam digulingkan. Dia
diyakini pula tetap menjadi duta bagi Irak, kecuali bila Dewan Umum PBB
menyetujui pengangkatan duta yang baru.

Baghdad, 9 April 2003